Senin, 08 Juni 2015

TUHAN DALAM AL-QUR'AN

Studi Tafsir Tematik Al Qur'an Surat An Naas



PENDAHULUAN
Al Qur’an Al Karim adalah sumber hukum pertama bagi umat Muhammad. Kebahagiaan mereka tergantung pada kemampuan memahami maknanya, pengetahuan rahasia-rahasianya dan pengamalan apa yang terkandung didalamnya. Kemampuan setiap orang dalam memahami Al qur’an tentu berbeda padahal penjelasan ayat-ayatnya demikian gambling, jelas dan rinci. Perbedaan daya nalar diantara mereka adalah suatu hal yang sudah tidak dipertentangkan lagi. Kalangan awam hanya dapat memahami makna-makna lahirnya dan bersifat global. Sedangkan kalangan cendikiawan dan terpelajar akan dapat memehami dan menyingkap makna-maknanya secara menarik. Didalam kedua kelompok inipun terdapat aneka ragam dan tingkat pemahaman . Maka tidaklah mengherankan jika Al Qur’an mendapatkan perhatian besar dari umatnya melalui pengkajian intensif terutama dalam rangka menafsirkan kata-kata gharib atau dalam mena’wilkan suatu redaksi kalimat.
Yang tak kalah menarik dalam pembahasan tafsir adalah tentang term “Tuhan” dalam Al Qur’an. Apa saja term yang digunakan dalam  penyebutan Tuhan dalam Al Qur’an ?, berapa kali Tuhan disebut dalam Al Qur’an?, Bagaiman Ulama ahli tafsir menafsirkannya ?. Berangkat dari hal-hal itulah penyusun mencoba menyajikan makalah tafsir tematik, dalam kesempatan ini adalah surat An Naas.
Semoga makalah ini manfaat dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya untuk penyusun. Dalam makalah ini penyusun mencoba mengambil referensi dari beberapa kitab yang sudah masyhur digunakan (dikaji) dalam dunia pendidikan islam, seperti pondok pesantren dan perguruan tinggi yang berbasis islam. Apabila nanti, dalam penjabaran makalah ini  terdapat keslahan, penyusun mohon maaf dan mohon tegur sapa dari para pembaca agar dalam penyusunan makalah berikutnya menjadi lebih baik.

PEMBAHASAN
  A.    TERM TUHAN  SECARA ETIMOLOGI
Dalam Alqur’an Surat An Naas Term (kata) “Tuhan” disebutkan dengan tiga macam, yaitu ربّ , ملك , dan اله  .  Meskipun dalam hakekatnya sama yaitu term-term tersebut merujuk pada satu maksud yaitu الله tetapi pada dasarnya term tersebut secara bahasa artinya tidak sama. Dalam kamus kerapyak ربّ  = اله artinya Tuhan (Allah), dapat diartikan juga pemimpin, ربّ = صاحب , مالك , ذو dapat diartikan pemilik.[1] Sedangkan اله artinya sama dengan ربّ yaitu : Tuhan.[2] Dan ملك  artinya Raja.[3]
Lafadz Rabb dengan ditambahkan Al (الربّ) pengertiannya adalah Allah ‘Aza Wajalla, Dia adalah Tuhan atas segala sesuatu, maksudnya Raja bagi segala sesuatu. Lafadz tersebut tidak boleh digunakan untuk menunjukan kepada selain Allah kecuali dalam bentuk idhafah. penggunaan lafadz ربّ dengan disandarkan pada lafadz lain, artinya adalah pemilik (orang yang berhak), seperti ucapan ربّ كلّ شيء ( pemilik segala sesuatu), dan ucapan فلان ربّ هذا الشيء ( Fulaan pemilik barang ini). Jadi, setiap orang yang memiliki sesuatu, maka ia adalah rabb ( pemilik) bagi sesuatu tersebut. Penggunaan lafadz الربّ  pada selain Allah digunakan oleh orang-orang yang hidup pada zaman jahiliyyah kepada raja mereka[4]. Lebih lanjut Ar Raghib Al Ashfahaani mengartikan ربّ dengan ditambahkan ال makna aslinaya adalah التربيّة artinya pendidik.[5] Jika dilihat dari fungsinya term Rabb mempunyai tiga arti, yaitu : Rabb sebagai pemilik / penguasa, Rabb sebagai Tuhan yang ditaati dan Raab sebagai pengatur.
Ulama menerangkan bahwa lafadz الله aslinya adalah اله , hamzahnya dibuang kemudian ditambahkan alief dan lam (ال) maka maknanya menjadi khusus yaitu Allah SWT Sang Maha Pencipta. meski demikian اله juga dijadkan sebutan untuk segala sesuatu yang disembah, orang-orang kafir menggunakan kata اله untuk matahari karena mereka menjadikan matahari sebagai sembahan.[6] Lafadz ملك dengan ditambahlkah ال (الملك) maknanya adalah dzat yang maha mengatur dengan perintah dan larangan pada umumnya.[7]


  B.     JUMLAH KESELURUHAN TERM ربّ , اله , dan ملك DALAM AL QUR’AN

Mengenai Term “Tuhan” didalam Al qur’an, jumlahnya tentu sangat banyak dengan berbagai bentuk dan susunannya. Term ربّ ( dalam bentuk mudlaf, seperti ربّ العالمين   ( keseluruhan dalam Al Qur’an berjumlah 84.[8] Namun jumlah tersebut belum termasuk term Rabb dalam bentuk yang lain, seperti  ربّ ( tidak mudlaf),  ربّي,  ربّا , ربّك ,ربّكم  dan lain-lain. Lebih lanjut Dr. Ahmad Munir menukilkan dari Tafsir Al Qurtuby bahwa term ربّ (bentuk mashdar) dalam Al Qur’an terulang sebanyak 947 kali, empat kali berbentuk jama’ ارباب , satu kali berbentuk tunggal, dan selebinya diidiomatikan dengan isim sebanyak 141 kali yang mayoritas dikontekskan dengan alam, selebihnya dikontekskan dengan masalah, mausia, Nabi, sifat Allah dan Ka’bah. Sedangkan yang berbentuk isim fa’il  ( (ربّاني terulang sebanyak tiga kali yang semuanya berbentuk jama’. Dan yang berbentuk kata kerja  ربّي)  ) terulang sebanyak dua kali.[9]
 Term اله berjumlah 80,[10] juga belum termasuk dalam bentuknya yang lain seperti الها , الهك , اللّه dan lainnya. Sedangkan term ملك keseluruhan berjumlah 11[11] termasuk dalam Surat An Naas, namun term tersebut juga memiliki bentuk yang lain.

  C.    TERJEMAH (ALIH BAHASA) SURAT AAN NAAS

قل أعوذ بربّ الناس (1)
Katakanlah (Muhammad) : "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan     
menguasai) manusia.
ملك الناس (2)
Raja manusia.
إله الناس (3)
Sembahan manusia.
من شر الوسواس الخناس (4)
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
الذي يوسوس في صدور الناس (5)
Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
من الجنة و الناس (6)
Dari (golongan) jin dan manusia.[12]

      D.   TAFSIR SURAT AN NAAS

Pada surat An Naas term Rabb ditafsiri sebagai “pendidik”, term Malik ditafsiri sebagai “Raja” dan Ilaah ditafsiri “sembahan”. Term Rabb lebih didahulukan dari term Malik dan Ilaah karena pendidikan adalah nikmat Allah yang paling besar dan paling utama bagi manusia.[13] Di ayat pertama Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan seluruh pengikutnya agar memohon perlindungan kepada Tuhan yang Maha mendidik, mengembangkan dan menjaga kelangsungan hidup manusia. Allah menjelaskanbahwa Allah lah yang mendidik manusia, serta menambahkan keteragan tentang Tuhan pendidik manusia ialah dengan cara menguasai jiwa mereka melalui kebesaran-Nya.[14]

 surat An Naas berisi tentag pendidikan cara berlindung dari kejahatan bisikan setan, baik setan dari kalangan jin dan manusia yang suka berbisik ke dalam dada manusia yang lalai dari mengingat Allah, bisikan itu dengan suara lirih, yang kemudian dia menghembuskan keraguan, rasa takut dan prasangka buruk kedalam hati, sehingga membuat indah sesuatu yang buruk dan membuat buruk sesuatu yang indah. Apabila manusia itu mengingat Allah, maka setan akan bersembunyi darinya. Dan apabila dia lalai, maka setan kembali menggoda nya.[15] Adapun was – was (bisikan) dari syaitan dari kalangan jin adalah hal yang nyata, sebab ia mengalir dialiran darah manusia. Adapun was – was dari setan dari kalangan manusia adalah dia membisikan kepada orang lain suatu kejahatan dan menghiasanya, sehingga orang itu menerima kejahatan tersebut, kemudian ia pun pergi meninggalkan orang tersebut. Manusia juga suka membisikan dan menganggap indah sesuatu yang buruk dan menganggap yang buruk sesuatu yang baik, serta menyebarkan nya kepada orang lain. Kejahatan syetan dari golongan manusia lebih besar dari pada kejahatan setan dari golongan jin.

Allah menyatakan dalam surat An Naas bahwa Dia Raja mbagi manusia, pemilik manusia dan Tuhan bagi manusia, bahkan Dia adalah Tuhan segala sesuatu. Tetapi dilain pihak, manusialah yang membuat kesalahan dan kekeliruan dalam menyifati Allah sehingga mereka tersesat dari jalan yang lurus. Mereka menjadikan Tuhan-Tuhan lain yang mereka sembah dengan anggapan bahwa tuhan-tuhan itulah yang memberi nikmat dan bahagia serta menolak bahaya dari mereka, yang mengatur hidup mereka, menggariskan batas-batas yang boleh atau tidak boleh mereka lakukan. Mereka memberi nama-nama tuhan-tuhan itu dengan pembantu-pembantuya dan menyangka bahwa tuhan-tuhan itulah yang mengatur segala gerak gerik mereka. Melalui Surat An Naas Allah mempeingatkan manusia bahwa Dia-lah yang mendidik mereka, sedang mereka adalah manusia-manusia yang suka berpikir, dan Dia raja mereka seta Dia pula Tuhan mereka menurut pikiran mereka. Maka tidaklah benar apa yang mereka ada-adakan untuk mendewa-dewakan diri mereka padahal meeka manusia biasa.
           
Isi kandungan surat An Naas adalah tentang permohonan perlindungan dari segala bencana yang menimpa manusia, oleh karena itu sangat wajar jika hal yang diingat adalah kepada siapa permohonan itu ditujukan, yaitu Allah SWT, Dzat yang memelihara manusia, karena hanya Dia sang Pencipta yang dapat membimbing dan melindungi manusia.

Dijelaskan pula bahwa surat An Naas mengandung tiga sifat Allah SWT, yaitu : Rububiyah, Mulkiyah dan Ilahiyyah. Dia adalah pengurus, raja dan sembahan segala sesuatu. Semua perkara adalah makhluk-Nya, dibawah kerajaan-Nya, dan mengabdi kepada-Nya. Maka, Allah SWT memerintahkan kepada siapa saja yang hendak memperlindungkan agar berlindung kepada dzat yang mempunyai tiga sifat agung ini, dari segala bisikan khannas, yaitu setan yang diwakilkan kepada manusia. Sebab tidak ada satupun keturunan Adam melainkan dia akan disertai yang selalu menjadikan indah segala macam tindakan keji dalam pandangannya. Sedangkan Al-ma’shum (Rasulullah SAW) adalah orang yang telah mendapat pemeliharaan ketat dari Alloh SWT. Setan mengalir dalm tubuh manusia bersama dengan darah yang mengalir keseluruh anggota tubuh, hal tersebur Ditetapkan dalam hadist riwayat Bukhari-Muslim, dari Anas bahwa Nabi bersabda :

انّ الشيطان يجري من ابن ادم مجرى الدم
“sesunggunhnya setan itu mengalir dalam tubuh anak Adam pada saluran darah.”[16]
           
Kata Said bin Jubair, Ibnu Abas ra. Mengatakan sehubunagn firman Allah, alwawasil-khannas ‘yang selalu membisikan dan mundur kebelakang’, dia mengatakan “setan itu berada dihati anak adam, bila lengah dan lalai setanpun akn membisik-bisikan, namun bila dia ingat Allah maka setan akan mundur kebelakang (khannasa)”. Mu’tamir bin Sulaiman mengatakan dari ayahnya, “diceritakan bahwa setan pembisik itu akan meniup hati anak Adam yang dirundung kesedihan dan senang. Namun apabila dia berdzikir maka setan akan mundur kebelakang.”
Firman Allah Ta’ala, “yang membisikan kedalam dada manusia” tentu maksudnya bukan hanya manusia, tetapi juga jin. Disebutkan manusia saja untuk menunjukan kelumrahan. Ibnu Jarir mengatakan: “ada beberapa jin yang ikut bekerja pada manusia. Oleh karena itu, tidak salah memutlakan manusia, namun yang dimaksud adalh termasuk jin.” Ada yang mengatakan bahwa firman Allah “Dari golongan jin dan manusia” ini merupakan tafsir tentang pihak yang selalu membisikan rasa was-was didalam dada manusia yaitu setan darri kalangan jin dan manusia, sebagaimana firman-Nya : “dan demikianlah kami jadikan bagi setiap Nabi musuh, yaitu setan-setan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka mengilhamkan kepada sebagian yang yang lain kata-kata pemanis untuk menipu.”[17]
Dari penjelasan diatas maka kita dapat mengetahui bahwa pengertian setan dalam surat An Naas mencakup dua pihak yaitu jin dan manusia. Setan dari golongan jin adalah makhluk yang tidak kasat mata, secara lahir mereka tidak terlihat, mereka mengalir dalam darah manusia dan membisikan godaan kedalam hati. Namun pada hakikatnya mereka juga takut kepada Allah SWT, maka ketika mereka dibacakan ayat-ayat Al qur,an mereka mundur atau bahkan lari. Berbeda dengan setan dari golongan manusia, mereka juga pandai membisikan godaan kepada sesama manusia, tetapi mereka dapat terlihat secara kasat mata, jika dibacakan ayat-ayat Alqu’an mereka juga tak kan lari karena ketakutan, bahkan mungkin mereka yang merasa tak suka dibacakan ayat-ayat Al Quran akan lebih mendekat dan memarahi yang membacakannya. Na’udzubillahi mindzaalik, semoga kita senantiasa mendapat pertolongan Allah SWT agar selalu terhindar dari bisikan dan godaan segala jenis setan.           

E.                 ASBABU AL NUZUL (SEBAB-SEBAB TURUN) SURAT AN NAAS

Surat An Naas termasuk golongan surat-surat Makiyyah,[18] turunnya satu paket dengan surat Al Falaq sehingga surat ini juga disebut Almuawwidzatain. Adapun sebab-sebab turun (Asbabu Al Nuzul) nya ada dua versi. Pertama, sebagaimana dikemukakan oleh Al Baihaqi dalam kitab “Dalailu Al Nubuwah” dari jalan Al Kalbi dari Abi Shalih yang bersumber dari Ibnu Abbas, berkata: Bahwa Rasulullah SAW pernah mendrita sakit parah, maka datanglah dua malaikat, yang sat duduk disamping kepala beliau, dan yang sat lagi duduk disamping kaki beliau. Malaikat yang duduk disamping kaki bertanya kepada malaikat yang duduk disamping kepala, “Apa yang kau lihat?” malaikat yang satu menjawab “Dia terkena guna-guna”. “Apa guna-guna itu?” “guna-guna adalah sihir”. “ siapa yang menyihirnya?” “Labied bin  Al Asham bangsa Yahudi”. “sihirnya berupa gulungan”. “dimana gulungan itu?” “didalam sumur keluarga Fulan”.

Keesokan harinya Rasulullah mengutus Ammar bin Yasir dan beberapa sahabat untuk menuju ketempat yang dimaksud. Lalu mereka menimbanya dan mengankat batu besar, dan mengambil gulungannya kemudian dibakar. Didalam gulungan itu terdapat tali engikat yang terdiri atas sebelas simpul. Sehubungan dengan peristiwa ini, maka turunlah surat Al Falaq dan An Naas . Setiap kali Rasulullah SAW membaca satu kali masing-masing dari surat tersebut, maka terlepaslah satu simpul.

Versi Kedua, dikemukakan oleh Abu Na’iem dalam kitab “Ad Dalail” dari jalan Abi Ja’far Ar Razi dari Ar Rai’ bin Anas yang bersumber dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah pernah dibuatkan makanan oleh orang yahudi dan setelah beliau memakannya beliau jatuh sakit, maka datanglah malaikat jibril dengan membawa Surat Al Mu’awidzatain (Al Falaq dan An Naas).[19]    

PENUTUP

Surat An Naas termasuk dalam golongan surat Makiyyah, surat ini terdiri atas enam (6) ayat. Dalam surat An Naas terkandung tiga sifat Allah yaitu Rububiyyah, Mulkiyyah dan Ilahiyyah. Didalamnya juga dijelaskan tentang setan yang senantiasa menggoda (berbisik) dalam hati manusia yaitu setan dari golongan jin dan manusia. Allah juga mengajarkan tentang kepada siapa permohonan perlindungan itu ditujukan, yaitu kepada Allah SWT.

Surat An Naas diturunkan pada saat Nabi Muhammad menderita sakit dengan lantaran perbuatan orang yahudi. Kemudian surat An Nas dijadikan obat bagi kesembuhan Rasulullah dengan cara membacakannya.

Didalam surat An Naas kita dapat mengambil beberapa palajaran, diantaranya adalah mengatahui bahwa setan tidak hanya dari golongan jin tetapi juga dari golongan manusia, setan dari golongan jin mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah, serta mengingatkan kita agar selalu waspada dan senatiasa memohon pelindungan hanya kepada Allah SWT. Mudah-mudahan makalah singkat ini bermanfaat bagi semua pihak. Amiin.

DAFTAR PUSTAKA

Muhdlar, Ahmad Zuhdi, Kamus Krapyak….tt.

Mandzur, Ibnu, Lisanu Al ‘Arab, (Dar Al Ma’aarif,1119).

Al Ashfahaani, Ar Raghib, Al Mufradat fi Ghoribi Alqur,an  , (Beirut: Dar Al Ma’rifah,502 H).
Abdu Al Baaqi, Muhammad Fuad, Al Mu’jam Al Mufahras Li Al Faadzi Al Qur’an Al Karim, ( Dar Al  Kutub Al mishriyyah, 1364).
Munir,Ahmad Tafsir Tarbawi, (Teras: Yogyakarta, 2008).

Al Qur’an dan Terjemahnya, Surat  An Naas, ( Bandung: Sinar Baru Algensindo 2010).

Tim Penyusun Al Qur’an dan Tafsirnya, Depag RI, Al Qur’an dan Tafsirnya, (Jakarta:2010).

At-Thabari, Abu Ja’far, Jaami’ Albayan Fi Ta’wili Al qur’an, tt.

Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani, 2000).
Ilyas,Yanuar Kuliah Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: ITQAN Publishing,2013).

As Suyuthi, Jalaluddin Lubabu Al Nuquul Fi Asbaabi Al Nuzuul, (Muassasatu Al Kitab Al Tsaqoofiyyah, 2002).


[1] Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Krapyak….hlm.952
[2] Ibid….hlm.211
[3] Ibid….hlm.1817
[4] Ibnu Mandzur, Lisanu Al ‘Arab, (Dar Al Ma’aarif,1119), hlm.1546
[5] Ar Raghib Al Ashfahaani, Al Mufradat fi Ghoribi Alqur,an  , (Beirut: Dar Al Ma’rifah,502 H), hlm.184
[6] Ibid….hlm.21
[7] Ibid….hlm.472
[8] Lihat: Muhammad Fuad Abdu Al Baaqi, Al Mu’jam Al Mufahras Li Al Faadzi Al Qur’an Al Karim, ( Dar Al   
   Kutub Al mishriyyah, 1364), hlm.285
[9] Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi, (Teras: Yogyakarta, 2008), hlm. 41-42
[10]Lihat: Muhammad Fuad Abdu Al Baaqi, Al Mu’jam Al Mufahras Li Al Faadzi Al Qur’an Al Karim, ( Dar Al   
   Kutub Al mishriyyah, 1364), hlm.75
[11] Ibid…..hlm.674
[12] Al Qur’an dan Terjemahnya, Surat  An Naas, ( Bandung: Sinar Baru Algensindo 2010), hlm.1373

[13] Tim Penyusun Al Qur’an dan Tafsirnya, Depag RI, Al Qur’an dan Tafsirnya, (Jakarta:2010), hlm.827
[14] Ibid…….
[15] Abu Ja’far At Thabari, jaami’ albayan fi ta’wili Al qur’an, tt, hlm.709
[16] Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani, 2000), hlm.1083
[17] Ibid…………, hlm.1084
[18] Yanuar Ilyas, Kuliah Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: ITQAN Publishing,2013), hlm.52
[19] Jalaluddin As Suyuthi, Lubabu Al Nuquul Fi Asbaabi Al Nuzuul, (Muassasatu Al Kitab Al Tsaqoofiyyah, 2002), hlm.314

Tidak ada komentar: