PENDAHULUAN
Al
Qur’an Al Karim adalah sumber hukum pertama bagi umat Muhammad. Kebahagiaan
mereka tergantung pada kemampuan memahami maknanya, pengetahuan
rahasia-rahasianya dan pengamalan apa yang terkandung didalamnya. Kemampuan
setiap orang dalam memahami Al qur’an tentu berbeda padahal penjelasan
ayat-ayatnya demikian gambling, jelas dan rinci. Perbedaan daya nalar diantara
mereka adalah suatu hal yang sudah tidak dipertentangkan lagi. Kalangan awam
hanya dapat memahami makna-makna lahirnya dan bersifat global. Sedangkan
kalangan cendikiawan dan terpelajar akan dapat memehami dan menyingkap
makna-maknanya secara menarik. Didalam kedua kelompok inipun terdapat aneka
ragam dan tingkat pemahaman . Maka tidaklah mengherankan jika Al Qur’an
mendapatkan perhatian besar dari umatnya melalui pengkajian intensif terutama
dalam rangka menafsirkan kata-kata gharib atau dalam mena’wilkan suatu redaksi
kalimat.
Yang
tak kalah menarik dalam pembahasan tafsir adalah tentang term “Tuhan” dalam Al
Qur’an. Apa saja term yang digunakan dalam
penyebutan Tuhan dalam Al Qur’an ?, berapa kali Tuhan disebut dalam Al
Qur’an?, Bagaiman Ulama ahli tafsir menafsirkannya ?. Berangkat dari hal-hal
itulah penyusun mencoba menyajikan makalah tafsir tematik, dalam kesempatan ini
adalah surat An Naas.
Semoga
makalah ini manfaat dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya untuk
penyusun. Dalam makalah ini penyusun mencoba mengambil referensi dari beberapa
kitab yang sudah masyhur digunakan (dikaji) dalam dunia pendidikan islam,
seperti pondok pesantren dan perguruan tinggi yang berbasis islam. Apabila
nanti, dalam penjabaran makalah ini
terdapat keslahan, penyusun mohon maaf dan mohon tegur sapa dari para
pembaca agar dalam penyusunan makalah berikutnya menjadi lebih baik.
PEMBAHASAN
A. TERM TUHAN
SECARA ETIMOLOGI
Dalam
Alqur’an Surat An Naas Term (kata) “Tuhan” disebutkan dengan tiga macam, yaitu ربّ , ملك
, dan اله . Meskipun dalam hakekatnya sama yaitu term-term
tersebut merujuk pada satu maksud yaitu الله
tetapi pada dasarnya term tersebut secara bahasa artinya tidak sama. Dalam
kamus kerapyak ربّ = اله
artinya Tuhan (Allah), dapat diartikan juga pemimpin, ربّ
= صاحب , مالك , ذو dapat diartikan
pemilik.[1]
Sedangkan اله artinya sama dengan ربّ yaitu : Tuhan.[2]
Dan ملك artinya Raja.[3]
Lafadz
Rabb dengan ditambahkan Al (الربّ)
pengertiannya adalah Allah ‘Aza Wajalla, Dia adalah Tuhan atas segala sesuatu,
maksudnya Raja bagi segala sesuatu. Lafadz tersebut tidak boleh digunakan untuk
menunjukan kepada selain Allah kecuali dalam bentuk idhafah. penggunaan lafadz ربّ dengan disandarkan pada lafadz lain,
artinya adalah pemilik (orang yang berhak), seperti ucapan ربّ كلّ شيء ( pemilik
segala sesuatu), dan ucapan فلان ربّ هذا الشيء ( Fulaan pemilik barang ini). Jadi, setiap orang
yang memiliki sesuatu, maka ia adalah rabb ( pemilik) bagi sesuatu tersebut.
Penggunaan lafadz الربّ pada selain Allah digunakan oleh orang-orang
yang hidup pada zaman jahiliyyah kepada raja mereka[4]. Lebih
lanjut Ar Raghib Al Ashfahaani mengartikan ربّ
dengan ditambahkan ال makna aslinaya adalah
التربيّة artinya pendidik.[5] Jika
dilihat dari fungsinya term Rabb mempunyai tiga arti, yaitu : Rabb sebagai
pemilik / penguasa, Rabb sebagai Tuhan yang ditaati dan Raab sebagai pengatur.
Ulama
menerangkan bahwa lafadz الله aslinya adalah اله , hamzahnya dibuang kemudian ditambahkan
alief dan lam (ال) maka maknanya menjadi
khusus yaitu Allah SWT Sang Maha Pencipta. meski demikian اله juga dijadkan sebutan untuk segala sesuatu yang disembah,
orang-orang kafir menggunakan kata اله
untuk matahari karena mereka menjadikan matahari sebagai sembahan.[6] Lafadz ملك dengan ditambahlkah ال (الملك)
maknanya adalah dzat yang maha mengatur dengan perintah dan larangan pada
umumnya.[7]
B. JUMLAH KESELURUHAN TERM ربّ
, اله , dan ملك
DALAM AL QUR’AN
Mengenai Term
“Tuhan” didalam Al qur’an, jumlahnya tentu sangat banyak dengan berbagai bentuk
dan susunannya. Term ربّ ( dalam bentuk
mudlaf, seperti ربّ العالمين ( keseluruhan
dalam Al Qur’an berjumlah 84.[8]
Namun jumlah tersebut belum termasuk term Rabb dalam bentuk yang lain, seperti ربّ ( tidak mudlaf), ربّي, ربّا
, ربّك ,ربّكم dan lain-lain. Lebih lanjut Dr. Ahmad Munir
menukilkan dari Tafsir Al Qurtuby bahwa term ربّ
(bentuk mashdar) dalam Al Qur’an terulang sebanyak 947 kali, empat kali
berbentuk jama’ ارباب , satu kali berbentuk
tunggal, dan selebinya diidiomatikan dengan isim sebanyak 141 kali yang
mayoritas dikontekskan dengan alam, selebihnya dikontekskan dengan masalah,
mausia, Nabi, sifat Allah dan Ka’bah. Sedangkan yang berbentuk isim fa’il ( (ربّاني
terulang sebanyak tiga kali yang semuanya berbentuk jama’. Dan yang berbentuk
kata kerja ربّي) )
terulang sebanyak dua kali.[9]
Term اله berjumlah 80,[10]
juga belum termasuk dalam bentuknya yang lain seperti الها
, الهك , اللّه
dan lainnya. Sedangkan term ملك keseluruhan berjumlah
11[11]
termasuk dalam Surat An Naas, namun term tersebut juga memiliki bentuk yang
lain.
C. TERJEMAH (ALIH BAHASA) SURAT AAN NAAS
قل أعوذ بربّ الناس (1)
Katakanlah (Muhammad) :
"Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan
menguasai) manusia.
ملك الناس (2)
Raja manusia.
إله الناس (3)
Sembahan manusia.
من
شر الوسواس الخناس (4)
Dari
kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
الذي
يوسوس في صدور الناس (5)
Yang
membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
من
الجنة و الناس (6)
Dari (golongan) jin dan
manusia.[12]
D. TAFSIR
SURAT AN NAAS
Pada surat An
Naas term Rabb ditafsiri sebagai “pendidik”, term Malik ditafsiri sebagai
“Raja” dan Ilaah ditafsiri “sembahan”. Term Rabb lebih
didahulukan dari term Malik dan Ilaah karena pendidikan adalah nikmat Allah
yang paling besar dan paling utama bagi manusia.[13]
Di ayat pertama Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan seluruh pengikutnya
agar memohon perlindungan kepada Tuhan yang Maha mendidik, mengembangkan dan
menjaga kelangsungan hidup manusia. Allah menjelaskanbahwa Allah lah yang
mendidik manusia, serta menambahkan keteragan tentang Tuhan pendidik manusia
ialah dengan cara menguasai jiwa mereka melalui kebesaran-Nya.[14]
surat An Naas berisi tentag pendidikan cara
berlindung dari kejahatan bisikan setan, baik setan dari kalangan jin dan
manusia yang suka berbisik ke dalam dada manusia yang lalai dari mengingat
Allah, bisikan itu dengan suara lirih, yang kemudian dia menghembuskan
keraguan, rasa takut dan prasangka buruk kedalam hati, sehingga membuat indah
sesuatu yang buruk dan membuat buruk sesuatu yang indah. Apabila manusia itu
mengingat Allah, maka setan akan bersembunyi darinya. Dan apabila dia lalai,
maka setan kembali menggoda nya.[15]
Adapun was – was (bisikan) dari syaitan dari kalangan jin adalah hal yang
nyata, sebab ia mengalir dialiran darah manusia. Adapun was – was dari setan
dari kalangan manusia adalah dia membisikan kepada orang lain suatu kejahatan
dan menghiasanya, sehingga orang itu menerima kejahatan tersebut, kemudian ia
pun pergi meninggalkan orang tersebut. Manusia juga suka membisikan dan
menganggap indah sesuatu yang buruk dan menganggap yang buruk sesuatu yang baik,
serta menyebarkan nya kepada orang lain. Kejahatan syetan dari golongan manusia
lebih besar dari pada kejahatan setan dari golongan jin.
Allah menyatakan
dalam surat An Naas bahwa Dia Raja mbagi manusia, pemilik manusia dan Tuhan
bagi manusia, bahkan Dia adalah Tuhan segala sesuatu. Tetapi dilain pihak,
manusialah yang membuat kesalahan dan kekeliruan dalam menyifati Allah sehingga
mereka tersesat dari jalan yang lurus. Mereka menjadikan Tuhan-Tuhan lain yang
mereka sembah dengan anggapan bahwa tuhan-tuhan itulah yang memberi nikmat dan
bahagia serta menolak bahaya dari mereka, yang mengatur hidup mereka,
menggariskan batas-batas yang boleh atau tidak boleh mereka lakukan. Mereka
memberi nama-nama tuhan-tuhan itu dengan pembantu-pembantuya dan menyangka
bahwa tuhan-tuhan itulah yang mengatur segala gerak gerik mereka. Melalui Surat
An Naas Allah mempeingatkan manusia bahwa Dia-lah yang mendidik mereka, sedang
mereka adalah manusia-manusia yang suka berpikir, dan Dia raja mereka seta Dia
pula Tuhan mereka menurut pikiran mereka. Maka tidaklah benar apa yang mereka
ada-adakan untuk mendewa-dewakan diri mereka padahal meeka manusia biasa.
Isi kandungan
surat An Naas adalah tentang permohonan perlindungan dari segala bencana yang
menimpa manusia, oleh karena itu sangat wajar jika hal yang diingat adalah
kepada siapa permohonan itu ditujukan, yaitu Allah SWT, Dzat yang memelihara
manusia, karena hanya Dia sang Pencipta yang dapat membimbing dan melindungi
manusia.
Dijelaskan pula
bahwa surat An Naas mengandung tiga sifat Allah SWT, yaitu : Rububiyah,
Mulkiyah dan Ilahiyyah. Dia adalah pengurus, raja dan sembahan segala sesuatu.
Semua perkara adalah makhluk-Nya, dibawah kerajaan-Nya, dan mengabdi kepada-Nya.
Maka, Allah SWT memerintahkan kepada siapa saja yang hendak memperlindungkan
agar berlindung kepada dzat yang mempunyai tiga sifat agung ini, dari segala
bisikan khannas, yaitu setan yang diwakilkan kepada manusia. Sebab tidak
ada satupun keturunan Adam melainkan dia akan disertai yang selalu menjadikan
indah segala macam tindakan keji dalam pandangannya. Sedangkan Al-ma’shum
(Rasulullah SAW) adalah orang yang telah mendapat pemeliharaan ketat dari Alloh
SWT. Setan mengalir dalm tubuh manusia bersama dengan darah yang mengalir
keseluruh anggota tubuh, hal tersebur Ditetapkan dalam hadist riwayat
Bukhari-Muslim, dari Anas bahwa Nabi bersabda :
انّ
الشيطان يجري من ابن ادم مجرى الدم
“sesunggunhnya
setan itu mengalir dalam tubuh anak Adam pada saluran darah.”[16]
Kata
Said bin Jubair, Ibnu Abas ra. Mengatakan sehubunagn firman Allah,
alwawasil-khannas ‘yang selalu membisikan dan mundur kebelakang’, dia
mengatakan “setan itu berada dihati anak adam, bila lengah dan lalai setanpun
akn membisik-bisikan, namun bila dia ingat Allah maka setan akan mundur
kebelakang (khannasa)”. Mu’tamir bin Sulaiman mengatakan dari ayahnya,
“diceritakan bahwa setan pembisik itu akan meniup hati anak Adam yang dirundung
kesedihan dan senang. Namun apabila dia berdzikir maka setan akan mundur
kebelakang.”
Firman
Allah Ta’ala, “yang membisikan kedalam dada manusia” tentu maksudnya bukan
hanya manusia, tetapi juga jin. Disebutkan manusia saja untuk menunjukan
kelumrahan. Ibnu Jarir mengatakan: “ada beberapa jin yang ikut bekerja pada
manusia. Oleh karena itu, tidak salah memutlakan manusia, namun yang dimaksud
adalh termasuk jin.” Ada yang mengatakan bahwa firman Allah “Dari golongan jin
dan manusia” ini merupakan tafsir tentang pihak yang selalu membisikan rasa
was-was didalam dada manusia yaitu setan darri kalangan jin dan manusia,
sebagaimana firman-Nya : “dan demikianlah kami jadikan bagi setiap Nabi musuh,
yaitu setan-setan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka mengilhamkan
kepada sebagian yang yang lain kata-kata pemanis untuk menipu.”[17]
Dari
penjelasan diatas maka kita dapat mengetahui bahwa pengertian setan dalam surat
An Naas mencakup dua pihak yaitu jin dan manusia. Setan dari golongan jin
adalah makhluk yang tidak kasat mata, secara lahir mereka tidak terlihat,
mereka mengalir dalam darah manusia dan membisikan godaan kedalam hati. Namun
pada hakikatnya mereka juga takut kepada Allah SWT, maka ketika mereka
dibacakan ayat-ayat Al qur,an mereka mundur atau bahkan lari. Berbeda dengan
setan dari golongan manusia, mereka juga pandai membisikan godaan kepada sesama
manusia, tetapi mereka dapat terlihat secara kasat mata, jika dibacakan
ayat-ayat Alqu’an mereka juga tak kan lari karena ketakutan, bahkan mungkin
mereka yang merasa tak suka dibacakan ayat-ayat Al Quran akan lebih mendekat
dan memarahi yang membacakannya. Na’udzubillahi mindzaalik, semoga kita
senantiasa mendapat pertolongan Allah SWT agar selalu terhindar dari bisikan
dan godaan segala jenis setan.
E.
ASBABU
AL NUZUL (SEBAB-SEBAB TURUN) SURAT AN NAAS
Surat An Naas
termasuk golongan surat-surat Makiyyah,[18]
turunnya satu paket dengan surat Al Falaq sehingga surat ini juga disebut
Almuawwidzatain. Adapun sebab-sebab turun (Asbabu Al Nuzul) nya ada dua versi. Pertama,
sebagaimana dikemukakan oleh Al Baihaqi dalam kitab “Dalailu Al Nubuwah” dari
jalan Al Kalbi dari Abi Shalih yang bersumber dari Ibnu Abbas, berkata: Bahwa
Rasulullah SAW pernah mendrita sakit parah, maka datanglah dua malaikat, yang
sat duduk disamping kepala beliau, dan yang sat lagi duduk disamping kaki
beliau. Malaikat yang duduk disamping kaki bertanya kepada malaikat yang duduk
disamping kepala, “Apa yang kau lihat?” malaikat yang satu menjawab “Dia
terkena guna-guna”. “Apa guna-guna itu?” “guna-guna adalah sihir”. “ siapa yang
menyihirnya?” “Labied bin Al Asham
bangsa Yahudi”. “sihirnya berupa gulungan”. “dimana gulungan itu?” “didalam
sumur keluarga Fulan”.
Keesokan harinya
Rasulullah mengutus Ammar bin Yasir dan beberapa sahabat untuk menuju ketempat
yang dimaksud. Lalu mereka menimbanya dan mengankat batu besar, dan mengambil
gulungannya kemudian dibakar. Didalam gulungan itu terdapat tali engikat yang
terdiri atas sebelas simpul. Sehubungan dengan peristiwa ini, maka turunlah
surat Al Falaq dan An Naas . Setiap kali Rasulullah SAW membaca satu kali
masing-masing dari surat tersebut, maka terlepaslah satu simpul.
Versi Kedua,
dikemukakan oleh Abu Na’iem dalam kitab “Ad Dalail” dari jalan Abi Ja’far Ar
Razi dari Ar Rai’ bin Anas yang bersumber dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah
pernah dibuatkan makanan oleh orang yahudi dan setelah beliau memakannya beliau
jatuh sakit, maka datanglah malaikat jibril dengan membawa Surat Al
Mu’awidzatain (Al Falaq dan An Naas).[19]
PENUTUP
Surat An Naas
termasuk dalam golongan surat Makiyyah, surat ini terdiri atas enam (6) ayat.
Dalam surat An Naas terkandung tiga sifat Allah yaitu Rububiyyah, Mulkiyyah dan
Ilahiyyah. Didalamnya juga dijelaskan tentang setan yang senantiasa menggoda
(berbisik) dalam hati manusia yaitu setan dari golongan jin dan manusia. Allah
juga mengajarkan tentang kepada siapa permohonan perlindungan itu ditujukan,
yaitu kepada Allah SWT.
Surat An Naas
diturunkan pada saat Nabi Muhammad menderita sakit dengan lantaran perbuatan
orang yahudi. Kemudian surat An Nas dijadikan obat bagi kesembuhan Rasulullah
dengan cara membacakannya.
Didalam surat An
Naas kita dapat mengambil beberapa palajaran, diantaranya adalah mengatahui
bahwa setan tidak hanya dari golongan jin tetapi juga dari golongan manusia,
setan dari golongan jin mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah,
serta mengingatkan kita agar selalu waspada dan senatiasa memohon pelindungan
hanya kepada Allah SWT. Mudah-mudahan makalah singkat ini bermanfaat bagi semua
pihak. Amiin.
DAFTAR
PUSTAKA
Muhdlar,
Ahmad Zuhdi, Kamus Krapyak….tt.
Mandzur,
Ibnu, Lisanu Al ‘Arab, (Dar Al Ma’aarif,1119).
Al
Ashfahaani, Ar Raghib, Al Mufradat fi Ghoribi Alqur,an , (Beirut: Dar Al Ma’rifah,502 H).
Abdu
Al Baaqi, Muhammad Fuad, Al Mu’jam Al Mufahras Li Al Faadzi Al Qur’an Al
Karim, ( Dar Al Kutub Al mishriyyah,
1364).
Munir,Ahmad
Tafsir Tarbawi, (Teras: Yogyakarta, 2008).
Al
Qur’an dan Terjemahnya, Surat An Naas,
( Bandung: Sinar Baru Algensindo 2010).
Tim
Penyusun Al Qur’an dan Tafsirnya, Depag RI, Al Qur’an dan Tafsirnya,
(Jakarta:2010).
At-Thabari,
Abu Ja’far, Jaami’ Albayan Fi Ta’wili Al qur’an, tt.
Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib, Ringkasan
Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani, 2000).
Ilyas,Yanuar
Kuliah Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: ITQAN Publishing,2013).
As
Suyuthi, Jalaluddin Lubabu Al Nuquul Fi Asbaabi Al Nuzuul, (Muassasatu
Al Kitab Al Tsaqoofiyyah, 2002).
[1] Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus
Krapyak….hlm.952
[2] Ibid….hlm.211
[3] Ibid….hlm.1817
[4] Ibnu Mandzur, Lisanu Al
‘Arab, (Dar Al Ma’aarif,1119), hlm.1546
[5] Ar Raghib Al Ashfahaani, Al
Mufradat fi Ghoribi Alqur,an ,
(Beirut: Dar Al Ma’rifah,502 H), hlm.184
[6] Ibid….hlm.21
[7] Ibid….hlm.472
[8] Lihat: Muhammad Fuad Abdu Al
Baaqi, Al Mu’jam Al Mufahras Li Al Faadzi Al Qur’an Al Karim, ( Dar
Al
Kutub Al mishriyyah, 1364), hlm.285
[9] Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi,
(Teras: Yogyakarta, 2008), hlm. 41-42
[10]Lihat: Muhammad Fuad Abdu Al
Baaqi, Al Mu’jam Al Mufahras Li Al Faadzi Al Qur’an Al Karim, ( Dar
Al
Kutub Al mishriyyah, 1364), hlm.75
[11] Ibid…..hlm.674
[12] Al Qur’an dan Terjemahnya,
Surat An Naas, ( Bandung: Sinar Baru
Algensindo 2010), hlm.1373
[13] Tim Penyusun Al Qur’an dan
Tafsirnya, Depag RI, Al Qur’an dan Tafsirnya, (Jakarta:2010), hlm.827
[14] Ibid…….
[15] Abu Ja’far At Thabari, jaami’
albayan fi ta’wili Al qur’an, tt, hlm.709
[16] Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan
Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani, 2000), hlm.1083
[17] Ibid…………, hlm.1084
[18] Yanuar Ilyas, Kuliah Ulumul
Qur’an, (Yogyakarta: ITQAN Publishing,2013), hlm.52
[19] Jalaluddin As Suyuthi, Lubabu
Al Nuquul Fi Asbaabi Al Nuzuul, (Muassasatu Al Kitab Al Tsaqoofiyyah,
2002), hlm.314
Tidak ada komentar:
Posting Komentar